Masyarakat yang tinggal jauh di pelosok sekitar hutan, jauh lebih arif dibandingkan kita yang katanya berpendidikan. Kearifan mereka menjaga kelestarian alam patut diacungi jempol. Kalau ada, kalpataru juga boleh. Hehehe
Kita yang sering memboroskan emisi dan produsen karbondioksida paling rajin mungkin paham benar apa yang disebut global warming. Sementara bagi mereka, mengucapkannya pun sulit. Setahu mereka, dunia sudah semakin memanas saja, tidak lagi sesejuk beberapa dekade yang lalu.
Salah siapakah ? Saya bilang tidak ada. Karena kalau kita mau tunjuk hidung, sama saja omong kosong. Ini sudah meruapakan kesalahan komunal yang disengaja dan dibiarkan begitu saja. Jadi siapa yang mau pasang badan untuk disalahkan atas bolongnya lapisan ozon di atas sana. Bahkan negara industri terbesar di dunia pun ogah mengakuinya kan. Sudahlah.
Kembali ke fokus, tentang masyarakat yang kabarnya ndeso itulah saya banyak belajar hal-hal menarik tentang tekad mereka menjaga lingkungan dari kerusakan. Mereka nggak perlu memajang banner atau baliho besar-besaran yang isinya slogan-slogan indah. Mereka langsung bertindak nyata. Loh, sebentar…mereka itu siapa to ?
Banyak.
Mereka itu suku Badui di ujung barat Jawa sana, mereka itu orang-orang Samin di pinggir Jawa Tengah, mereka itu orang Maluku di tepian laut sana, mereka itu masyarakat adat di pedalaman Borneo sana dan masih banyak kelompok yang sama tersebar sporadis di pedalaman wilayah nusantara yang notabene sering disebut masyarakat primitif yang nggak kenal blog kaya kita ini.
Saya pernah bertemu dengan salah satu komonitas serupa di pelosok Wonogiri. Mereka adalah kelompok tani hutan yang dengan senang hati menanami pekarangan dan tegalan milik mereka menjadi hutan rakyat. Tujuan mereka jelas, untuk menciptakan iklim yang sejuk dan lestari di sekitarnya serta menyelamatkan desa mereka dari bencana kekeringan yang pernah melanda. Apa yang mereka kerjakan itu berlandaskan alasan sederhana yang sarat makna menurut saya. Tekad mereka untuk melestarikan hutan yang mereka tanam sendiri itu dampaknya luar biasa besar bagi lingkungan. Menciptakan iklim mikro yang sejuk, mencegah bencana alam, penyumbang ketersediaan air bagi wilayah hilir, mengatasi kekeringan, berkontribusi bagi pelestarian ekosistem, spesies, serta plasma nutfah. Itu baru dampak ekologis. Secara ekonomis, mereka pun bisa memanfaatkan hasil hutan kayu maupun non kayu yang mengikuti sistem pemanenan tebang butuh. Bukan mengeksploitasi seperti yang sering dilakukan oleh korporasi nasional di kawasan hutan produksi.
Satu hal yang saya salut adalah, tekad mereka untuk melestarikan alam tidak pernah mengharap pamrih apapaun dari siapapun. Kenapa ? Karena kesadaran mereka jauh lebih tinggi dari sekedar pamrih materi yang tak seberapa. Bahwa apa yang mereka perbuat hari ini, hasilnya tidak hanya dinikmati mereka sendiri, tetapi juga anak cucunya kelak. Sebuah pemikiran yang sering disebut berkelanjutan oleh kalangan akademis.

